Rabu, 30 September 2020
Senin, 28 September 2020
Minggu, 27 September 2020
Surat Terbuka Untuk Bupati dan Wakil Bupati Blora
Assalamu alaikum Warahmatullahi wa Barakatuh
Bapak Bupati dan Wakil Bupati Blora.
Lebih Baik Kami Mati Karena Penyakit Daripada Kami Mati Karena Kelaparan.
Dengan keprihatinan yang mendalam saya menulis surat ini kepada Bapak, Ibu sekalian. Saya Sriyono, seorang putra Blora yang lahir dari warga Blora. Seperti bapak dan ibu sekalian, saya tumbuh dan besar di sini, di tanah penghasil seni terbaik negeri ini. Jikapun mungkin ada perbedaan, saat ini saya bisa merasakan penderitaan saudara-saudara Seni yang sedang tercekik akibat paceklik akibat pandemi Corona sementara Bapak dan Ibu sekalian abai melihat penderitaan itu. Saya dan pekerja seni yang sedang bertahan hidup itu hanyalah jelata. Tapi dari jelata seperti kami, bapak dan ibu sekalian bisa duduk di singgasana tahta. Tanpa kami, para jelata, Bapak dan Ibu sekalian tidak akan ada artinya. Saya ingat, Bapak dalam orasi politiknya meneriakkan salah satu misi kepemimpinan Bapak jika terpilih adalah untuk menyejahterakan masyarakat Blora.
Ribuan masyarakat yang hadir saat itu memiliki harapan besar untuk hidup lebih baik dan lebih sejahtera. Dalam program visi-misi Bapak Bupati dan Wakil Bupati Blora juga jelas tertera bahwa tujuan kepemimpinan Bapak adalah mewujudkan masyarakat Blora yang adil dan sejahtera. Kami mengharapkan kepemimpinan Bapak mampu mendobrak perubahan, meneruskan hal-hal baik yang telah ada, merumuskan kelanjutannya serta melaksanakan agenda-agenda riil yang dapat mendorong percepatan kesejahteraan masyarakat Blora secara lebih luas. Atas nama cita-cita besar itulah kami memilih Bapak. Kami ingin Bapak membawa kami pada perbaikan-perbaikan dan perubahan yang nyata. Meskipun pada akhirnya saat ini kami menelan pahitnya kekecewaan demi kekecewaan di tengah himpitan paceklik.
Bagaimana kami tidak kecewa? pada masa kepemimpinan Bapak, bahwa Bapak belum mampu berbuat banyak untuk masyarakat Blora. Program air bersih belum sepenuhnya terealisasi. Bukannya kami tidak peduli atas gangguan itu, tetapi seharusnya itu semua tanggungjawab Bapak untuk memberantas secepatnya semua gangguan demi memenuhi janji-janji Bapak kepada kami. Dengan besar hati kami memaafkan kekurangan-kekurangan masa kepemimpinan Bapak karena kami memiliki harapan besar. Kami masih memberi Bapak kesempatan untuk melakukan perbaikan dan perubahan. Tetapi kenyataannya kami menelan pil kekecewaan yang lebih pahit lagi. Pil pahit itu menyeret kami, masyarakat Blora dalam penderitaan.
Akibat dari kebijakan Bapak melarang orang hajatan pernikahan, suanatan dll nanggap hiburan itu, para pekerja seni hiburan dan semua yang terlibat tengah menjadi korban. Jelas, kebijakan itu merugikan kami, yang terlalu banyak berharap bahwa Blora akan menjadi lebih baik dan sejahtera. Tidak hanya sampai di situ. Pil pahit yang telah kami telan itu mendadak berubah menjadi racun di tubuh kami. sehingga kami kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari mulai dari kebutuhan anak-anak kami sekolah, kebutuhan makan sampai kami harus berhutang, Bapak Ibu sekalian justru melarang hiburan tanggapan orang hajatan tahun ini.
Kami sudah mencoba mengingatkan Bapak Ibu sekalian untuk melihat penderitaan kami sebelum melarang orang punya hajatan untuk nanggap hiburan, tetapi Bapak Ibu sekalian berpaling dari wajah kami. Apakah memang itu yang Bapak Ibu sekalian inginkan? Bermewah-mewah di atas penderitaan kami yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari? Lalu jika demikian siapa yang Anda wakili di Blora? Atas nama siapa Anda berada di sana jika Bapak Ibu tidak mampu melihat penderitaan di wajah kami? Kami yang membawa Anda semua ke singgasana itu. Uang yang Anda belanjakan mobil mewah itu juga uang kami. Gaji yang dibayarkan kepada Anda juga uang kami. Kamilah, rakyat jelata ini, yang sebenarnya memiliki kuasa penuh. Jadi sudah sepantasnya kalau kami mengoreksi Anda semua bahkan tidak mengijinkan Anda menggunakan uang kami dengan semena-mena. Jika saya memasuki ruang sidang dengan meniup peluit kepada Anda semua disana, itu bukanlah lelucon ala wasit yang meniup peluit di sebuah pertandingan. Tiupan peluit saya adalah ekspresi kekecewaan dan keprihatinan yang mendalam terhadap kebijakan yang tidak adil ini. Dan kartu merah yang saya berikan kepada Anda adalah bukti bahwa Anda semua telah melakukan pelanggaran serius dalam memimpin kami.
Bapak Ibu sekalian, ingatlah janji-janji manis Anda sebelum kami usung ke singgasana Anda yang sekarang, ingatlah sumpah Anda atas nama Allah SWT dengan Kitab Alqur’an di atas kepala Anda saat pelantikan dan ingatlah wajah-wajah kami yang mengharapkan pemimpin yang berintegritas, berkomitmen, amanah dan mampu membersamai kami dalam mewujudkan cita-cita besar ini. Kami, rakyat jelata selalu merindukan pemimpin seperti itu. Kami memiliki kuasa untuk mewujudkan impian kami jika Bapak Ibu sekalian tidak mampu mewujudkan cita-cita besar masyarakat Blora menjadi daerah yang maju dan sejahtera.
Wassalamu alaikum Warahmatullahi wa Barakatuh.
Sriyono.
Keluarga Seni dan Tukang Shoteng Asli Blora.
Mewakili seluruh aspirasi para pekerja seni Kethoprak, Wayang Kulit, Barongan, Tayub, Organ Tunggal, Campursari, Dangdut dan semua yang terlibat di dalamnnya, Tukang Sound, Tukang Panggung, Tukang Shoteng, Tukang Tratak Meja Kursi, Bakul mremo, Tukang Rias Manten, dll.
Blora, 27 September 2020
Sabtu, 26 September 2020
Jumat, 25 September 2020
Kamis, 24 September 2020
Rabu, 23 September 2020
Selasa, 22 September 2020
Sabtu, 19 September 2020
Jumat, 18 September 2020
Kamis, 17 September 2020
Rabu, 16 September 2020
Selasa, 15 September 2020
Senin, 14 September 2020
Minggu, 13 September 2020
Sabtu, 12 September 2020
Jumat, 11 September 2020
Kamis, 10 September 2020
Selasa, 08 September 2020
Senin, 07 September 2020
Minggu, 06 September 2020
Kamis, 03 September 2020
Rabu, 02 September 2020
Selasa, 01 September 2020
Langganan:
Postingan (Atom)
