Jumat, 28 Mei 2021

New Cakrawala Full Album 22 Mei 2021

Live Stream Dalang Gemblung Lakon Wahyu Tirto Manikmoyo Mahardi

Keluh Kesah Pekerja Seni Disaat Pandemi, Pengen Iso Pentas Rino Wengi

 


Memang Kesehatan itu Mahal Harganya. Tetapi Perut Lapar pun Bisa Membuat Orang Mati

Kalau kamu PNS, gak perlu khawatir terdampak corona. Atau kalau kamu usaha di bidang farmasi, kamu pun gak perlu khawatir terdampak corona. Atau kalau kamu tukang jual kuota internet pun gak perlu khawatir terdampak corona. Tetapi kalau kita bekerja di bagian kebutuhan skunder yang tidak menjadi skala prioritas saat pandemi corona seperti sekarang ini, 

Misalkan kamu bekerja dibidang seni seperti Kethoprak, barongan, wayang kulit, tayub, musisi organ tunggal ataupun dangdut, tukang sound system, tukang shoteng, dll. maka sudah pasti terdampak secara ekonomi.

Bersyukurlah kalian yang masih punya pekerjaan meski pandemi corona menyerang, karena banyak di luaran sana yang jadi pengangguran karena pembatasan aktivitas karena corona.

Jangan kaget, kalau nanti negara kita porak poranda karena krisis. Mewariskan berjuta masalah karena kita gini-gini aja. Pembatasan ini mau sampai kapan? Mau sampai gak ada kasus corona lagi? Yakin itu virus corona bisa diselesaikan dengan sekedar kebijakan pembatasan?

Kalau soal prokes, baiklah itu akan menjadi kebiasaan baru kita. Tetapi kalau pembatasan di segala bidang dan membuat hidup kita menjadi tak produktif, saya rasa itu yang sulit untuk diterima nalar dan akal sehat.

Saya muak dengan orang-orang yang terlahir dari rahim orang kaya lalu berkomentar kesehatan lebih utama dari pada ekonomi. Mungkin mereka tutup mata dengan orang-orang yang mencari sesuap nasi dengan tidak memperdulikan kesehatan bahkan nyawa. Atau mereka yang melupakan fakta bahwa begal dan perampok sampai tega membunuh demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Memang kesehatan itu mahal harganya. Tetapi perut lapar pun bisa membuat orang mati. Tak hanya mati, tetapi bisa membuat orang kesetanan dan saling bunuh. Demi mencari uang untuk kebutuhan hidup, orang pun rela memjual ginjal, keperawanan hingga menipu menggunakan nama Tuhan.

Dua kali lebaran yang sudah kita lewati, saya yakin kita sudah memiliki data untuk membuat keputusan dalam skala prioritas.  Jika saya liat awalnya para pembuat kebijakan seperti ingin membiarkan para pekerja seni bisa pentas siang malam walau dibatasi jam sampai 11 malam bebas main, namun akhirnya melarang, bahkan tayub sempat sama sekali gak boleh pentas, menurut saya itu karena tekanan para lawan politik dan tabrakan kepentingan dari kelompok-kelompok yang memikirkan perutnya sendiri. Tak bosan pertanyaan selalu mengiang di kepala saya “ Sampai kapan terus begini?”. Udah ah, itu aja… 

#Aku Kok Ngelu